Gizi Buruk, Ancaman Serius Masa Depan
Perkara buruknya kondisi gizi dan kesehatan anak-anak di Indonesia, menjadi salah satu pemicu tingginya angka kematian bayi dan balita di tanah air. Hingga saat ini, masalah gizi masih saja mengancam masa depan generasi.
Berdasarkan data resmi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, lebih dari 8 juta anak Indonesia menderita kekurangan gizi. Di dunia,Indonesia berada pada posisi buruk.
Saat ini Indonesia masih menjadi penyumbang angka anak kerdil (stunting) dan kurang gizi di dunia, yang jumlah totalnya mencapai 165 juta. Anak kurang gizi dapat dilihat dari ukuran badan, kerdil dan berat badan rendah. Anak-anak yang kurang gizi biasanya lahir dengan berat badan di bawah 2,5 kilogram.
Kurang gizi pada anak-anak di bawah usia dua tahun, menyebabkan mereka gampang sakit. Selain itu, perkembangan tubuh anak hingga dewasa tidak optimal, produktivitas rendah, kemampuan motorik rendah, dan kemampuan daya saing juga rendah. Anak yang sejak lahir sudah kurang gizi, hingga dewasa akan sulit tumbuh sehat.
Di Indonesia, kondisi anak kerdil dan kurang gizi paling banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur. Hampir separuh anak di bawah 10 tahun tergolong kerdil.
Mengacu pada data yang dimiliki Kementerian Kesehatan, kondisi gizi anak Indonesia sepanjang tahun 2013 secara umum terbagi dalam tiga kelompok, yakni masalah gizi yang telah dikendalikan, gizi yang belum selesai dan persoalan gizi baru yang mengancam kesehatan masyarakat.
Masalah anak kerdil hingga saat ini tergolong serius mengancam balita Indonesia. Berdasarkan hasil Riskesdas pada 2007 silam, ditemukan prevalensi anak kerdil mencapai 36,8 persen dan berhasil diturunkan menjadi 35,6 persen tahun 2010.
Sementara masalah gizi kurang, masih membayangi masa depan anak-anak di Indonesia. Meskipun upaya penanganannya terus dilakukan, namun sejalan dengan peningkatan jumlah anak kerdil, penderita gizi kurang dan buruk juga meningkat hingga 19,6 persen di tahun 2013. Padahal upaya mengurangi balita gizi kurang berhasil dilakukan, dari 18,4 persen (Riskesdas 2007) menjadi 17,9 persen (Riskesdas 2010).
Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy kepada Jia Xiang Hometown di Jakarta, Jumat (10/1/14), menyatakan meskipun dampaknya sangat serius bagi kualitas sumber daya manusia, namun hingga kini belum semua pihak menyadari besarnya ancaman yang dihadapi anak-anak Indonesia. “Keterlibatan seluruh pihak terkait sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan besar ini,” ujarnya.
Sementara itu, terkait permasalahan gizi, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi justru mengklaim bahwa tingginya angka anak kekurangan gizi di tanah air disebabkan rendahnya budaya hidup sehat. Menurut dia, banyak keluarga yang belum memahami kebiasaan hidup sehat.
Untuk penanganan masalah tersebut, Nafsiah Mboi menyatakan, Kementerian Kesehatan terus mendata jumlah riil anak-anak yang menderita gizi buruk. Meski demikian, pihaknya tidak bisa memastikan jumlah anak dengan gizi buruk mencapai 8 juta seperti dilansir Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.
Nafsiah Mboi hanya bisa memastikan, Kementerian Kesehatan melalui dinas kesehatan di seluruh Indonesia, terus menangani anak yang kekurangan gizi, termasuk upaya-upaya pencegahannya.
Salah satu upaya preventif mengurangi anak dengan gizi buruk, Kementerian Kesehatan melakukan pencegahan dini dengan edukasi gizi pada calon ibu. Selama ini mereka dimonitor terus untuk mencegah anak lahir dengan berat badan rendah.
Program pemberian asupan gizi tambahan juga menjadi salah satu program andalan pemerintah. Asupan diberikan pada ibu hamil dan pemberian asupan gizi tambahan pada anak sekolah.
Upaya Penanganan
Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan, Doddy Izwardy menjelaskan permasalahan gizi di Indonesia masih menjadi ancaman besar terhadap tingginya angka kematian anak dan ibu, sehingga upaya pencegahan dan penanggulangannya terus dioptimalkan. Perkara ini akan semakin buruk dan menjadi masalah serius jika tak tertangani sejak dini.
Menurut Doddy, permasalahan gizi buruk ditanggulangi secara komprehensif melalui upaya promotif, preventif dan kuratif. Upaya promotif yaitu pencegahan sebelum terjadi gizi buruk. Beberapa upaya diantaranya, pemantauan pertumbuhan balita, konseling ASI, pemberian vitamin A, tablet Fe pada ibu hamil, promosi garam beryodium, skrining aktif dan edukasi gizi.
Jika terjadi kasus gizi kurang, maka pencegahannya adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan gizi. Untuk pendanaan di tingkat pusat terdapat Bantuan Oprasional Puskesmas (BOK) yang dapat dioptimalisasikan.
Ketika kasus gizi buruk terlanjur terjadi, upaya kuratif yang dilakukan adalah melalui penatalaksanaan balita gizi buruk melalui prosedur rawat inap puskesmas atau rumah sakit maupun rawat jalan.
Untuk menanggulangi semakin parahnya perkara gizi anak-anak di Indonesia, diterbitkan Peraturan Presiden No 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Program ini fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan. Program ini diharapkan bisa menurunkan angka gizi buruk pada anak-anak.[For/U1]